Waduh…!, Keributan Kasatpol PP Lebong Dengan Bawahan Berawal Karena Pengalihan Anggaran THLT

oleh -425 views

Berandapublik.com – Informasi teranyar diterima Redaksi Berandapublik.com tentang Pelaporan di Polres Lebong antara Kasatpol PP Lebong Dipolisikan Bawahannya, Setelah Cekcok Mulut dan Saling Dorong edisi Sabtu, 19 November 2022 lalu.

Ternyata Ratna Sari adalah Kasubag Perencanaan dan Keuangan, yang bertugas di Kantor Sat Pol PP Kabupaten Lebong.

Keributan antara Ratna Sari dengan Kasat Pol PP Lebong yang sebelumnya sempat dibantah Kasatpol PP Lebong ini, diduga berawal dari silang pendapat pengalihan penggunaan anggaran di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lebong.

Ratna Sari mengutarakan, dirinya nekat melapor bosnya ke aparat Penegak Hukum (APH) lantaran memang sudah ada silang pendapat sehubungan pengalihan mata anggaran.

Ratna Sari menceritakan, dulu ada penambahan anggaran untuk para Tenaga Harian Lepas Terdaftar (THLT) Satpol PP dari Rp500 ribu menjadi Rp 900 ribu per bulan, ditambah dengan uang piket sebesar Rp200 ribu per bulan. Artinya, penerimaan THLT Satpol PP per bulan itu Rp 1.1 juta per bulan. Itupun menurut Ratna setelah Bupati Lebong Kopli Ansori menerima audiensi para THLT Satpol PP Lebong. Maka mata anggaran untuk honor dan gaji ada penambahan di APBD Perubahan 2022. Semula Rp948 juta menjadi Rp1.668.000.000. Ada penambahan Rp720 juta.

“Itu dianggarkan penambahan Rp 600 ribu dengan rincian penambahan honor Rp400 ribu dan uang piket Rp 200 ribu terhitung bulan Juni sampai Desember 2022,” ujar Ratna Sari. Senin (21/11/22).

Masih kata Ratna Sari, Hanya saja uang sebesar Rp200 ribu untuk uang piket THLT dari bulan Juni sampai Desember itu, diduga dialihkan sepihak oleh Andrian Arisetiawan, pada waktu itu masih menjadi Kabid Tibum.

Pengalihan anggaran itu berupa anggaran sarana dan prasarana, yakni berupa pengadaan baju tahan api dan SPPD.

“Inilah awal mula ada perbedaan pendapat antara saya dan Kepala Satpol PP Lebong saat dia mengikuti lelang, keputusan sepihak waktu beliau sebelum mengikuti lelang (Selter JPTP),” ujar Ratna Sari.

Diakui Ratna Sari, mata anggarannya untuk uang piket THLT sebesar Rp 200 ribu per bulan tidak patut dialihkan. Terlebih lagi, penambahan perintah pimpinan untuk kesejahteraan THLT.

“Niat kita dari awal sesuai dengan petunjuk tim anggaran untuk mensejahterakan THLT. Khususnya yang piket-piket,” kata Ratna Sari.

Puncak Keributan Penarikan Kendaraan Dinas

Ratna Sari membeberkan, puncak keributan terjadi pada Jum’at (11/11) sekitar pukul 17.00 WIB di Kantor Satpol PP Lebong.

Kejadian itu sampai Ratna Sari, setelah kendaraan dinasnya ditarik sepihak atas perintah Kasatpol PP. Padahal, Kata Ratna, kendaraan itu selama ini perawatannya menggunakan uang pribadi, dan ada berita acara pinjam pakai.

“Pada hari kejadian sekitar pukul 12.00 WIB, bendahara barang menghubungi saya atas perintah Kasatpol PP untuk kembalikan kendaraan dinas. Tapi, saya minta hari senin saja karena ada notanya, dan lagi pula saya masih tugas disana,” ungkap Ratna Sari.

Ratna Sari menegaskan, ketersinggungan pihaknya saat Ratna Sari tidak berada di rumah, namun Kasatpol PP meminta sejumlah THLT datang ke kediamannya di Desa Sukau Datang I Kecamatan Tubei, mengangkut paksa kenderaan di depan anak-anaknya yang berada di rumah.

“Lalu saya menyusul ke kantor, kamu kok suruh anak buah narik motor ke rumah, itu tidak ada etika. Kuncinya masih sama saya,” ujar Ratna kepada Bosnya.

Di lokasi,(Kantor Satpol PP-red) jelas Ratna Sari, bukan meredamkan keadaan. Malah Kasubag Perencanaan dan Keuangan itu mendapatkan ancaman akan dimutasi dari Kantor Satpol PP.

“Kelak kamu kulaporkan dan kumutasikan kamu. Aku nih kasat,” ucap Ratna Meniru kata Kasatpol PP.

Setelah itu terjadinya cekcok mulut dan ia membenarkan karena sudah naik pitam sempat menendang pintu yang mengakibatkan kayu dari plafon ruangan terjatuh.

“Dia kasar saya jadi kasar juga. Lalu dia tarik, dan sikut kepala saya sampai menyentuh dinding,” aku Ratna.

Ia juga mengaku, tidak pernah ingin membawa perkara itu ke APH. Akan tetapi, karena Andrian Arisetiawan
melapor Ke Polsek Lebong Atas dan menurunkan anggota polisi saat kejadian, maka dirinya juga melapor balik ke Polres Lebong.

“Dia juga melapor ke Polsek Lebong Atas, tentang kerusakan barang. Karena dia melapor, saya datangi langsung ke Polsek Lebong Atas untuk klarifikasi. Saya merasa terancam, karena dia orangnya nekat. Mulai dari kendaraan di rumah saya saja ditarik, di depan umum saja dilawan,” tutup Ratna Sari.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Lebong, Andrian Arisetiawan saat dikonfirmasi belum menjawab pertanyaan awak media.(jms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.