Rehab Rabat Beton dan Pembangunan Kanopi Posyandu Desa Rantau Karya, Diduga Sarat Masalah

oleh -320 views

Berandapublik.com – Dua kegiatan Desa Rantau Karya Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, yakni Rehabilitasi Rabat Beton di RT 3 dan Pembangunan Kanopi Posyandu diduga sarat masalah.

Pembangunan Kanopi Posyandu yang berada tidak jauh dari kantor desa tersebut, yang bersumber dari dana Bantuan Provinsi (Banprov)Jambi.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Gaung Demokrasi Indonesia (LSM-GDI), M. Hidayatullah Dachi kepada awak media usai melakukan investigasi ke lokasi kegiatan. Rabu (2/3/2022).

Menurut M. Hidayatullah Dachi, dari besaran nilai yang dianggarkan untuk pekerjaan kegiatan di Desa Rantau Karya yang menggunakan dana Banprov itu, diduga kuat telah terjadi Mark Up.

“Ini amat kita sayangkan, dan ini sudah seharusnya menjadi perhatian serius dari Dinas PMD dan Inspektorat untuk mengawasi kegiatan-kegiatan yang bersumber dari uang rakyat,” kata M. Hidayatullah Dachi.

Artinya kata M. Hidayatullah Dachi. Dinas PMD dan Inspektorat Tanjung Jabung Timur dianggap gagal dalam hal menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap desa-desa yang ada. Khususnya Desa Rantau Karya.

Foto Kanopi tampak dari dekat

Terpisah, Kaur Keuangan Desa Rantau Karya, Merly ketika dikonfirmasi menjelaskan, jika dana Banprov Jambi tahun 2021 untuk Desa Rantau Karya sebesar Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah), direalisasikan 40% (empat puluh persen) untuk kegiatan pekerjaan Rehab Rabat Beton RT 3, 40% (empat puluh persen) untuk Pembangunan Kanopi Posyandu dan 20% (dua puluh persen) untuk pegawai syara’.

“Kalau rabat beton dua puluh tujuh jutaan, kanopi posyandu sembilan belas juta dua ratus ribu,” terang Merly.

Selain itu, Sekdes Rantau Karya, Margono, yang juga turut dikonfirmasi. Kepada awak media mengatakan ukuran volume Rehabilitasi Rabat Beton tersebut adalah 82 m x 1,5 m x 10 cm.

Sementara, kata Margono. Untuk Pembangunan Kanopi Posyandu, karena kurangnya dana sehingga pekerjaan lantai belum dikerjakan.

“Kanopi itu kemarin usulannya untuk pemeliharaan, yang diusulkan 4×6 atau berapa gitu. Cuma kita menyesuaikan anggaran kita. kalau pemeliharaan posyandu itu cukup, langsung semuanya,” jelas Margono.

Foto jalan Rabat Beton

Ditambahkan Margono, dana Banprov Jambi tahun 2021 yang direalisasikan untuk pembangunan kanopi posyandu sebesar dua belasan juta.

Penyampaian Kaur Keuangan, bertentangan dengan pernyataan Sekdes Rantau Karya.

Margono menyebut apabila laporan yang disebutkan Kaur Keuangan kemungkinan ditambah dengan dana silpa Banprov 2020.

“Kalau semuanya itu sembilan belasan juta. Tapikan tambah silpa (Banprov 2020-red). Kalau khusus yang 2021 dua belasan juta. Dua belas juta murni Banprov 2021, selebihnya pakai Banprov tahun kemarin” kata Margono.

Dikatakan Sekdes Rantau Karya, Silpa Banprov tahun 2021 sebesar delapan belas ribu rupiah. Pola pekerjaan yang menggunakan dana Banprov dengan cara swakelola.

“Swakelola oleh orang sekitar, pakai TPK (Tim Pelaksana Kegiatan-red), tapi tidak pakai PKT (Padat Karya Tunai-red). Kalau pakai PKT lima puluh persen tidak bisa,” ungkap Sekdes.

Lebih lanjut, Margono mengatakan, semua dana untuk pembangunan fisik yang bersumber dari Banprov diberikan kepada TPK Desa Rantau Karya setelah dipotong pajak sebesar 11,5 %.

“Karena kalau tidak dipotong pajak, kami khawatir pajaknya tidak terbayar. Realnya, semua uangnya dikasih sama TPK. Kami tahunya administrasinya. Ini uangnya, nanti saya butuh tanda bukti pembayaran pekerjanya,” Jelas Margono.

Menyinggung masalah administrasi, Margono mengatakan telah sesuai aturan.

“Kalau administrasinya, kan diminta sama semuanya itukan sesuai aturan. Jadi kalau pelaksanaannya, kamikan ngak bisa lawan Pak Kades,” imbuh Sekdes.

Sebelumnya, Kades Rantau Karya, Agus Muardi ketika berhasil dikonfirmasi awak media dan tim di ruang kerjanya, sehubungan dengan kegiatan pekerjaan fisik yang bersumber dari dana Banprov 2021, mengatakan dirinya tidak pernah mengurusi adminitrasi. Selasa (1/3/2022) kemarin.

“Perlu saya tegaskan, saya tidak pernah urusan administrasi,” tegas Agus Muardi dengan dialek bahasa Jawa.

Menurutnya, pekerjaan pembangunan Kanopi Posyandu dibutuhkan untuk ibu-ibu, ketika menunggu anaknya. Sementara itu, pekerjaan dikerjakan oleh warga Rantau Karya bernama Juki dan bukan TPK Desa yang mengerjakan.

“Yang mengerjakan si Juki, kalau TPK ada. Saya ndak tahu sistim pengerjaannya, jadi gak usah dikejar ya, apakah diborongkan apakah dihitung harian dengan total sekian,” pungkas Agus Muardi.(pbp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.