Perlunya Keseimbangan Harga Jual Dengan Harga Kebutuhan Petani

oleh -66 views

Oleh : Asri Ariska
Pimpinan Umum Berandapublik.com

Menguak semakin menurunnya harga sawit, yang sudah anjlok dikisaran Rp500 per Kilogram, membuat petani sawit enggan memanen buah sawit di kebunnya, meski Tandan Buah Sawit (TBS) sudah layak dipanenkan.

Hal ini didasari jika dipanenkan, petani tidak mendapat untung. Bahkan cenderung rugi saat panen tersebut dilakukan.

Untuk saat ini, andaikan asumsi harga TBS bertahan dikisaran Rp500 per Kilogram, petani harus mengeluarkan biaya panen Rp250 per Kilogram.

Kebanyakan perkebunan sawit masyarakat berada di lokasi yang jaraknya hanya bisa ditempuh dengan kenderaan roda dua. Secara otomatis jika panen, harus menggunakan jasa pelangsir.

Dengan demikian, patokan biaya angkut atau lebih dikenal masyarakat dengan upah angkut berada dikisaran Rp300 per kilogram, petani harus menutupi kekurangan biaya panen per kilogramnya sebesar Rp50.

Suatu alasan yang masuk akal, ketimbang menombok, maka buah sawit dibiarkan saja dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.

Selain daripada itu, bagi petani yang menitipkan Sertifikat kebunnya ke Bank untuk kebutuhan kebun, juga dipusingkan kembali dengan setoran bank perbulan pada posisi sawit harga murah.

Mengungkit kilas balik harga sawit, dulunya harga sawit berada pada kisaran Rp500 – Rp1.200 per kilogram. Tidak ada keluhan dan rintihan masyarakat, karena semua harga yang dibutuhkan petani sawit terjangkau.

Penulis ingin menyampaikan, bahwa harga sawit tersebut tidak bisa diserahkan pemerintah sepenuhnya pada pundak Pabrik pembeli TBS saja. Pabrikpun tak bisa menerima TBS jika harga diluar kemapuan daya belinya. Secara untung ruginya harus juga dipertimbangkan pihak pabrik.

Hal yang mungkin perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah, Pada masa harga sawit Rp500 – Rp1200 per kologram. Harga pupuk Urea berada di kisaran Rp200.000 ribu per sak isi 50 Kilogram. Sedangkan harga NPK Mutiara berkisar pada harga Rp350.000 ribu per sak isi 50 KIlogram. Serta harga kebutuhan kebun lainnya masih sangat terjangkau. Dua Jenis pupuk ini digunakan petani karena dinilai cocok untuk meningkatkan hasil produksi.

Untuk saat ini, harga Pupuk Urea per sak isi 50 Kilogram sudah mencapai Rp500.000 bahkan cenderung lebih. Sedangkan pupuk NPK Mutiara dulunya seharga Rp350.000 per sak isi 50 Kilogram, berubah harga menjadi hampir Satu juta per sak, bahkan bisa diasumsikan lebih dari harga tersebut.

Belum lagi ditambah dengan harga Racun rumput, yang digunakan untuk membersih lahan kebun atau sawah. Dulu berkisar antara Rp50.000 hingga Rp75.000 per liter, sekarang berubah harga menjadi Rp100.000 ribu lebih.

Penulis berpendapat, selain meminta untuk menaikkan harga sawit di posisi standar kepada pabrik, hendaknya dilakukan pula permintaan pada harga standar untuk kebutuhan petani, kepada pihak Perusahaan yang memproduksi Pupuk, Racun Rumput dan lain sebagainya untuk kebutuhan petani.

Intinya, apapun yang mereka lakoni sebagai petani, bukan memprotes harga. Tetapi lebih kepada ketidakseimbangan dari harga kebutuhan dan harga produksi dari usaha tersebut. sehingga mengakibatkan tidak adanya keuntungan dari hasil jerih payah mereka.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.