Penolakan Revitalisasi Pasar Beringin, Diduga Ada Monopoli Pedagang Besar Menguasi Pasar

oleh -205 views

Berandapublik.com – Menyikapi permasalahan Rencana Revitalisasi Pasar Beringin, salah satu tokoh masyarakat Kota Singkawang ikut berkomentar.

Dedi Mulyadi, salah seorang tokoh masyarakat mengatakan, setelah mendalami permasalahan ini dapat diselesaikan dengan cara sederhana.
” Setelah saya mendalami masalah ini, sebenarnya sederhana dan cukup dibicarakan kembali atau Sosialisasi ulang antara Para Pedagang, Masyarakat dan Pemerintah Kota Singkawang,” kata Dedi.

Menurut Dedi, hal ini tidak perlu diributkan dan ia menilai masalahnya terletak pada skema penawaran harga.

” Masalah ini hanya karena Skema Penawaran yang berisi Harga Beli, Lama Cicilan dan Ukuran Kios atau Los yang akan dibangun. Juga masalah Tempat Relokasi Sementara untuk berdagang dalam 2 tahun ini, selama proses pembangunan Revitalisasi ini dilakukan.” terang Dedi.

Dedi Mulyadi menduga, karena dimasuki, indikasi disusupi oleh beberapa kepentingan tertentu pihak lain dan kepentingan politik untuk menjatuhkan citra Pemerintah Kota Singkawang, akhirnya masalah ini jadi besar dan terus panas, digoreng-goreng.

Dedi berharap kepada Para Pedagang untuk membuka diri, memahami duduk masalahnya, jangan ikut-ikutan dan jangan selalu bersikeras untuk menolak. Karena Pembanguan Revitalisasi ini juga harapan masyarakat Singkawang dan masyarakat sangat mendukung demi kemajuan.

” Jadi kepada Para Pedagang kecil, Pedagang Lapak, Pedagang Los, Pedagang Kaki Lima dan Pedagang Emperan Jalan Raya, harus memahami bahwa gerakan penolakan ini terindikasi oleh kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, dari orang-orang yang mau menggagalkan Revitalisasi. Percayalah, orang-orang ini akan berhadapan dengan masyarakat nantinya, karena hal ini mengenai kepentingan masyarakat Singkawang yang haus, rindu akan pembangunan dan penataan, yang memimpikan kebersihan dan pengelolaan pasar yang hiegenis, bersih dan tertata. Tidak seperti saat ini yang kusut, semraut, tak beraturan dan kotor disana sini. Di jalan, tong sampah, genangan air dan kotor menjadi berdampingan barang dagangan. Tentu hal ini merugikan masyarkat/konsumen, belum lagi konsumen yang berbelanja. Kalau habis hujan masuk dengan pakaian bersih, keluar pakaian dan sendal jadi kotor karena genangan air dan sampah-sampah yang berserakan,” jelas Dedi.

Menurut Dedi, ia hanya memberi pemahaman kepada para pedagang, jika tidak setuju pembangunan Revitalisasi ini maka akan sangat merugikan Para Pedagang Kecil itu sendiri, karena dinilai menghambat pembangunan. Masih banyak masyarakat dan komsumen yang setuju, bahkan sebagian masyarakat banyak yang mau mengambil dan membayar Kios dan Los jika Revitalisasi itu berhasil dibangun.

Selain itu ia mengungkapkan, Pemerintah bisa saja mencabut HPL dan HGU yang dimiliki oleh para pedagang selama ini karena dinilai menghambat proses pembangunan yang dilakukan Pemerintah.

Ia berharap Para Pedagang jangan mudah di susupi oleh kepentingan pihak-pihak tertentu yang coba menggaggalkan pembangunan ini, karena akan berhadapan dengan masyarakat yang sangat mendambakan adanya Pengelolaan Pasar, dengan Pembangunan yang berbasis kemajuan dan moderenisasi.
Masyarakat sepenuhnya mendukung Program Pembangunan ini, jangan sampai terjadi benturan antara masyarakat dengan pedagang.

Pedagang-pedagang kecil, lanjut Dedi. Jangan terprovokasi oleh kepentingan pedagang besar, karena pedagang besar itu sifatnya me-monopoli tempat dengan 2-3 kios yang dimiliki selama puluhan tahun selama ini. Dedi mengaku sudah menangkap dan tanggap masalahnya, dan menduga ada beberapa Pedagang Besar yang tidak mau ikut relokasi, akibat tempatnya tidak sebesar dulu ketika Revitalisasi itu dilakukan.

” Padahal tujuan Revitalisasi selain menata kebersihan dan moderenisasi juga bakal menampung para pedagang kecil, emperan, kaki lima, pedagang Los, dan lain-lain sehingga pedagang besar akan menolak akibat luas besar Kios dan Jumlah Kios mereka akan berkurang karena harus berbagi dengan pedagang kecil tersebut.
Inikan sangat tidak baik bagi keadilan dan kesamaan. Masalah ini telah kita pelajari, kita bedah dan kita tangkap sehingga berani untuk kita kemukakan,” ujar Dedi.

” Kapan lagi Kota dan Pasar kita akan indah, tertata, rapi, bersih dan moderen sesuai perkembangan jaman, jangan sampai hanya kepentingan sekelompok orang akhirnya menghambat Pembangunan dan Kenyamanan kita sebagai masyarakat dan konsumen kota Singkawang,” tutup Dedi(spr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.