Korban Pemukulan Pertanyakan Surat Perdamaian, Diketahui Kades Tanpa Teken Pihak Yang Bertikai

oleh -158 views

Berandapublik.com – Menuntut keadilan atas pemukulan terhadap dirinya, seorang warga Desa Karya Jaya, Sugiono alias Rambe mempertanyakan keputusan Kades yang dinilai timpang.

Merasa tidak adil dengan keputusan kepala desa Karya Jaya kecamatan Marga Sakti Sebelat Kabupaten Bengkulu Utara, Sugiono mempertanyakan keputusan tersebut kepada Kades Karya jaya.

Menurut korban, dia dipukul oleh salah seorang pemuka adat setempat inisial SRM pada tanggal 31 Oktober 2021, padahal dia tidak tahu titik permasalahannya.
” Saya hanya menuntut keadilan, masa saya dipukul tanpa tahu permasalahannya,” kata Sugiono

Korban melanjutkan, dia sudah melapor kepada kepala desa Karya Jaya untuk diselesaikan, namun Kades malah menyuguhkan surat perjanjian perdamaian musyawarah adat yang ditandatangani kades, BPD, perangkat dan kaum adat tanpa dihadiri (korban dan diduga pelaku -red) dan tidak ditandatangani kedua pihak yang bertikai.
” Kades malah memberikan surat perdamaian tanpa tanda tangan saya dan pelaku, lantas yang didamaikan itu antara siapa dan siapa,” kata Sugiono.

Lebih lebih lagi menurut Sugiono, selain tanpa tanda tangan pihak bertikai, kades diduga mengatur keputusan musyawarah adat yang ditandatangani kades, BPD, perangkat dan kaum adat seakan rapat desa. Sedangkan tanda tangan surat itu ada yang diminta saat Kerja Bakti di Mushola.
” surat itu saya terima tanggal 3 Nopember 2021. Yang menandatangni ada yang diminta saat kerja bakhti di mushola,” tambah Sugiono.

Sugiono juga mengatakan, dirinya hanya meminta keadilan untuk ditemukan kedua belah pihak, antara korban yang ditampar dan yang menampar agar ada perdamaian yang sah diatas materai dan disaksikan beberapa pihak. Yakni kades, perangkat desa dan tokoh adat serta Bhabin Kamtibmas yang bertugas.

Kepala Desa Karya Jaya, Warsito, ketika dihubungi awak media via telepon selulernya mengatakan, bahwa kejadian itu bukan pemukulan, tapi tamparan tersebut hanya teguran kasih sayang agar korban sadar akan ucapannya.
” bukan pemukulan, kalau pemukulan itu tempeleng sekali jatuh. Itu sentuhan tangan agar dia tahu dan sadar dengan ucapannya yang salah. Bahasa pemukulan dan tamparan kasih sayang itu beda,” kata kades.

Kades menyebutkan, permasalahan itu berdasarkan hasil musyawarah adat sudah dianggab selesai. (ags)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.