Komunitas Pengkonsumsi Kratom Pertanyakan Pernyataan BNN Kota Singkawang, Kratom Itu Racun

oleh -104 views

Berandapublik.com – Beredarnya tulisan selebaran di media Online dan Medsos yang dibuat dan disebarkan oleh BNN Kota Singkawang.

Selebaran itu berjudul “Racun Yang Berkedok Dalam Minuman Herbal Kratom ” yang viral beberapa waktu lalu telah membuat kekhawatiran, kegelisahan, rasa takut dan mengundang pertanyaan dari masyarakat dan komunitas pengkonsumsi Kratom.

Kekhawatiran dan pertanyaan itu beralasan, karena selama ini Kratom yang dikenal sebagai minuman santai di warkop dan cafe bahkan menjadi minuman seduhan di rumah ternyata dikatakan minuman beracun. Hal ini menakutkan sekaligus menjadi pertanyaan. Adapun pertanyaan yang disampaikan komunitas pengkonsumsi Kratom sebagai berikut :

-Apakah benar yang disampaikan oleh BNN Kota Singkawang tersebut yang mengatakan Kratom itu adalah Racun yang berkedok Herbal ?

-Apakah kesimpulan yang mengatakan Kratom adalah Racun, itu hasil dari Riset dan Uji Laboratorium ?

-Apakah sudah ada Pasien yang dirawat atau di Rehabilitasi akibat dari mengkonsumsi Kratom ?

-Apakah sudah ada korban yang meninggal akibat mengkonsumsi Kratom ?

-Apakah ada Undang – Undang yang melarang mengkonsumsi Kratom ?

-Atau ini hanyalah upaya pembodohan kepada masyarakat, karena ingin memberlakukan label Cukai pada produk Kratom ?, Seperti halnya label cukai pada kemasan Tembakau, Vave dan Rokok.

Dedi Mulyadi, Warga Singkawang sebagai Panglima Bala Komando Pemuda Melayu Wilayah Kota Singkawang kepada awak media mengatakan, kalau berita atau selebaran itu ditulis dan disebarkan oleh masyarakat biasa maka tidaklah khawatir ataupun bertanya. Karena itu mungkin sekedar kepentingan persaingan bisnis atau sekedar orang mencari sensasi.

“Namun jika tulisan itu dibuat dan disebarkan oleh sekelas Badan Narkotika Nasional (BNN) maka hal itu sangat mengkhawatirkan, membuat gelisah dan timbul berbagai pertanyaan seperti diatas,” kata Dedi Mulyady.

Selain itu kata Dedi Mulyady, selama ini minuman seduh Kratom itu sudah sangat familiar di masyarakat. Bisa diterima sebagai minuman seduh yang memberikan berbagai manfaat. Walau tidak berdasarkan uji klinis / uji laboratorium tentang khasiat Kratom. Secara psikologis dan fisikis masyarakat sangat menerima dan merasakan manfaat Kratom sebagai sebuah alternatif Herbal yang dapat mengurangi berbagai keluhan penyakit. Seperti pegal linu, badah letih, rasa sakit, kadar gula darah tinggi (kencing manis), pengering luka, sakit maag, saluran pencernaan, susah tidur (Insomia), dan meningkatkan mutu tidur, solusi ketergantungan Narkoba dan Miras, dan masih banyak manfaat dirasakan dengan mengkomsumsi Kratom, juga sebagai media sosialisasi.

” Jadi dengan adanya pernyataan atau informasi yang bertolak belakang antara yang disampaikan BNN dengan apa yang dirasakan Masyarakat Pengkonsumsi Kratom (Komunitas) mengenai efek dan khasiat kratom, maka hal ini dapat menyebabkan perdebatan dan informasi yang simpang siur, yang pada akhirnya masyarakatlah yang dirugikan,” ucap Dedi Mulyady.

Dedi meminta kepada BNN Kota Singkawang untuk bisa menjelaskan secara ilmiah tentang informasi yang mengatakan bahwa Kratom itu adalah Racun.

” Kita berharap kepada BNN untuk segera mengundang kita dan mengadakan pertemuan, dialog atau sosialisasi, dengan melibatkan Perwakilan Masyarakat, Komunitas Kratom, Ahli Kimia (Medis) dan Yayasan (Panti) Rehabilitasi Narkoba. Hal ini guna mendapatkan informasi yang sejelas – jelasnya, sehingga benar – benar diketahui masyarakat dan dapat disosialisasikan dengan baik, bukan sekedar opini atau rekayasa akhirnya dapat memberikan rasa takut dan merugikan masyarakat,” Ujar Dedi.

Menurut Dedi Mulyady, kalau bicara tentang Racun, bukankah Tembakau, Vave, Obat Kuat, Minuman menambah Stamina dan Induk Gula atau Pemanis buatan, lebih mempunyai efek racun yang lebih tinggi dan berdampak buruk terhadap tubuh. Jika demikian lantas kenapa barang – barang jenis itu tidak dikatakan Racun. Sebaliknya justru dilegalkan dengan cara memberlakukan label Cukai.

” apakah Kratom ada tujuannya akan di Cukai kan ?. Sebenarnya masyarakat dan komunitas tidak keberatan jika Kratom dicukaikan. Silakan saja, namun yang menjadi masalah adalah mengatakan Kratom itu Racun, karena pernyataan itu akan menimbulkan keresahan dan rasa takut,” jelas Dedi Mulyady.

” Sekali lagi dengan hormat kami minta kepada BNN Kota Singkawang untuk mengundang kita untuk segera melakukan diskusi, dialog, sosialisasi dengan melibatkan berbagai pihak guna menjelaskan pernyataan yang mengatakan Kratom itu Racun yang berkedok Herbal. Kasihan masyarakat jika tidak mendapatkan informasi yang jelas, akurat dan ilmiah.” tutup Dedi Mulyadi.

Hinga berita ini dimuat, redaksi masih berupaya meminta keterangan BNN Kota Singkawang. (spr).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.